Love for Sale, Kematangan dalam Melepaskan

“Newcastle tim bapuk begitu?” –Richard Ahmad Widjaja
Love for Sale, 2018

 

Blurb:
Sudah terlalu lama hidup sendiri, Richard (Gading Marten), terlanjur nyaman menjalani hidupnya yang datar dan tanpa tantangan. Tetapi semua itu berubah ketika Richard menemukan Arini (Della Dartyan) melalui aplikasi Love.Inc.

Pertemuannya dengan Arini seketika mengguncang dunia Richard. Love for Sale bukan kisah cinta biasa, melainkan sebuah kisah pendewasaan diri seorang manusia urban yang unik.

Sumber: 21 Cineplex

 

Identitas:
Sutradara: Andibachtiar Yusuf
Penulis: Andibachtiar Yusuf, M. Irfan Ramli
Produser: Angga Dwimas Sasongko, Chicco Jerikho
Rumah Produksi: Visinema Pictures

 

Ulasan

Richard hidup berdua bersama Kelun, kura-kura yang doyan banget makan mentimun, sementara Richard sendiri lebih doyan mie instan. Di luar rumah, Richard memiliki kehidupan sosial yang mencukupi. Teman nongkrong, ada. Teman berbagi keluh kesah, ada. Pekerjaan, ada.

Lalu apa yang kurang? Cinta. Laki-laki yang masih melajang di usia 41 tahun itu, hidup berdua dengan seekor kura-kura yang berusia kira-kira 17 tahun. Seorang pimpinan perusahaan yang galak ketika karyawannya melakukan kesalahan sekecil apa pun.

Kalau kamu kira akan melihat laki-laki lajang usia 40 yang super-duper-dapper, kamu salah. Foto-foto Gading Marten yang super-gereget sudah terpampang di mana-mana. Rambutnya yang kian memutih, perutnya yang kian membuncit, dan hobi galernya yang bikin gemas ini adalah karakter yang begitu dekat dengan realita.

Penampilan Richard cukup membuat hati saya iba. Penampilannya sangat mirip dengan seorang bapak yang pernah saya kenal. Pada usianya yang sudah tua, keduany berada pada titik yang sama; sama-sama terlihat kesepian.

Apalagi setiap kali Richard membaca telepon genggamnya ke mana-mana. Di mata saya, seorang bapak-bapak yang tidak dapat melepaskan ponsel dari tangannya, tampak sangat menyedihkan. Kesepian itu membuatnya begitu erat mengikat sumber keramaiaannya. Mengikat satu-satunya benda yang membuatnya tidak merasa kesepian.

Terima kasih, Gading, atas aksi dalam perannya yang begitu meyakinkan, dan begitu menyayat.

Sampai pada satu kesempatan, ia bertemu Arini Kusuma. Teman kondangan yang berujung pada cinta yang mendewasakan. Arini mengubah Richard. Arini mengubah kehidupan Richard.

Di beberapa bagian memang mudah ditebak dan membuat gemas. Seperti ketika ketahuan latar belakang keluarga Arini dan teman gengnya, atau ketika Arini tiba-tiba hilang di satu pagi, kenapa sikkk Mz Richard enggak membuka aplikasi Love.Inc di ponselnya? Kenapa enggak memeriksa catatan kartu kreditnya?

Menurut saya, menghilangnya Love.Inc bersamaan dengan menghilangnya Arini adalah sesuatu yang disayangkan. Tetapi, justru dapat juga menjadi sebuah penanda. Penanda bahwa semesta seakan ingin memberikan manisnya cinta kepada si laki-laki lajang 41 tahun yang kabur ketika diminta bertemu orang tua itu.

Seakan ingin memberi tahu kepada Richard bahwa cinta itu melembutkan yang keras. Ia merawat luka. Ia mendewasakan. Ia membuat manusia keluar dari zona nyamannya. Ia membuat Richard menjadi seseorang yang baru.

Banyak ulasan yang mengatakan bahwa Love for Sale menjiplak Her (Spike Jonze, 2014), atau yang membandingkan dengan Eternal Sunshine of the Spotless Mind (Michel Gondry, 2004). Tapi menurut saya, Love for Sale sangat berbeda dengan kedua film tersebut. Karena Arini bukan Samantha. Dan konflik pada Eternal Sunshine lebih kompleks. Jika ingin, bisa saja Love for Sale digali lebih dalam. Tapi, saya rasa sudah cukup apa yang tampil di layar. Cukup.

Saya sangat suka bagaimana Richard menghadapi kenyataan tentang cinta yang melangkah pergi di depan matanya sendiri.

Love for Sale bukan hanya tentang ‘ditinggal pas lagi sayang-sayangnya’, tetapi juga tentang bagaimana kematangan menghadapi ‘ditinggal pas lagi sayang-sayangnya’. Pas banget buat dedek-dedek atau mas-mas atau mbak-mbak yang selalu aja ngerek tentang cinta mereka yang ditinggalkan saat sedang sayang-sayangnya.

Hai Kawan, dewasalah. Karena, seperti yang Richard katakan, bahwa mencintai itu penuh risiko. Meski satu-satunya risiko mencintai hanya tidak dicintai. Tapi berat, kan? Sungguh, perjuangan menjadi dewasa dan matang itu tidak mudah. Jika perlu berdarah-darah, berdarah-darahlah. Karena ketika kita berada di titik itu, yang akan dan ingin kita lakukan hanya tersenyum dan berterima kasih, entah kepada siapa, entah kepada apa. Hanya tersenyum. Mungkin kepada Richard, mungkin kepada Bang Andibachtiar.

Ah, ya … terima kasih, Kawan-kawan Tim Produksi, atas karyanya yang jujur dan sederhana ini. Kesederhanaan yang indah. Kematangan yang diperlukan dalam mencintai, juga dalam melepaskan.

Apakah saya ingin mengubah akhirnya? Tidak.

Richard, laki-laki berusia 41 tahun yang masih melajang, si Perjaka Senja yang entah akan melajang hingga senja yang mana, hingga senja yang bagaimana, hingga senja yang ada di mana. Akhirnya merasakan apakah itu bahagia, bagaimana itu santai dan tertawa melihat tingkah Jaka dan Raka.

“Sungguh mencintai adalah pekerjaan berat dan penuh risiko. Tapi kukira mengambil risiko tidak pernah ada salahnya.” –Richard Ahmad Widjaja
Love for Sale, 2018

Love For Sale gambar

Advertisements

Resign Bukanlah Jalan Keluar

Ulasan buku Resign karya Almira Bastari

 

By the way, kemarin kenapa enggak masuk?” selidik Tigran.
“Enggak enak badan,” jawabku singkat. Sejujurnya, kemarin aku mengikuti tes tertulis sebuah perusahaan asing. Ya, aku bohong.
“Ke rumah sakit enggak?” cecar Tigran menatapku.
“Sudah kok,” bohong lagi. Namun kali ini perasaanku tidak enak.
“Oh rumah sakitnya di Sampoerna Strategic?” dia tersenyum seperti iblis.
-hlm. 9-

 

Identitas buku:
Judul buku: Resign
Penulis: Almira Bastari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2018

Blurb:
Kompetisi sengit terjadi di sebuah kantor konsultan di Jakarta. Pesertanya adalah para Cungpret, alias kacung kampret. Yang mereka incar bukanlah penghargaan pegawai terbaik, jabatan tertinggi, atau bonus terbesar, melainkan memenangkan taruhan untuk segera resign!

Ulasan:

Kutipan singkat di atas adalah cuplikan Cungpret yang ketahuan sedang melakukan langkah-langkah angkat kaki dari tim bos killer-nya. Itu baru satu langkah Cungpret untuk keluar dari lingkaran setan kerja tiada akhir tapi bonus tiada kecil. Belum lagi usaha-usaha lainnya para Cungpret demi lepas dari genggaman dan radar Tigran, si bos-yang-juga-cungpretnya-dewa-bos.

Bercerita dari sudut pandang orang pertama, Alranita selalu uring-uringan dengan segala tindak tanduk (segala tindak Tigran yang bikin Alranita bertanduk) si bos ganteng yang doyan banget kuliah di berbagai tempat kuliah beken di dunia itu, Tigran yang-nama-lengkapnya-panjang-beudh-ampek-lupa-akutu-cuma-kebayang-gantengnya-aja.

Para Cungpret; Alranita, Carlo, Karen, dan Andre disatukan oleh kegalakan Tigran dan dipererat oleh taruhan; siapa yang keluar duluan, dia yang paling berat ditraktirnya, dan siapa yang keluar paling akhir, dia yang paling berat traktirannya. Ketika Alranita mendengar gosip tentang “blablabla Tigran blablabla resign” di HRD, ketika itu pula para Cungpret mulai saling mencurigai satu sama lain. Apalagi ketika para Cungpret tiba-tiba cuti dengan alasan yang terngibul.

“Kalau bos punya mau, anak buah harus maju!” –Cungpret yang biasa maju “perang””
-hlm. 18-

Resign menampilkan realita  penggila bos di kantor-kantor dengan mobilitas tinggi, bahwa tak peduli selama apa pun mereka harus lembur, selama bos masih menuntut revisi, selama itu pula yang harus ditempur. Dan, si bos yang memang seorang workaholic, seakan kerja adalah tujuan hidupnya, dan apalah artinya lembur jika besok pagi bisa presentasi dengan sempurna.

Isu yang diangkat di dalam buku ini sebenarnya cukup umum dan cukup sering ada di berbagai novel. Tapi, tentu saja semua buku tersebut memiliki warnanya sendiri-sendiri.  Warna yang membuat saya begitu kepincut dengan Resign adalah sisi komedinya. Percakapan antar-Cungpret dituturkan sangat nyata, membuat saya tertawa terpingkal-pingkal membayangkan bagaimana mereka saling ledek, saling membalas satu sama lain. Belum lagi tingkah Carlo yang sampai bela-belain encok demi sebuah bahan gibah yang tetap enggak bisa dia bagikan ke Cungpret lainnya.

Isu lain yang diangkat di buku ini adalah di mana terjadi pincut kepincut antar-pekerja, dengan tindak rindu yang menggemaskan. Tindakan menunjukkan rasa cinta yang sebenarnya klise dan tidak dekat dengan realita ini cukup membuat pembaca agak halu berbunga-bunga.

Di atas itu semua, Resign menunjukkan kepada kita bahwa mengundurkan diri bukanlah satu-satunya jalan keluar. Karena kita enggak akan pernah tahu bagaimana kehidupan setelahnya, siapa pengganti si A, si B, apakah lebih menyenangkan atau malah jauh lebih memuakkan. Kita cuma perlu menghadapi. Karena enggak ada jaminan pasti di dalam hidup kalau kita cuma menunggu. Menunggu pekerjaan lain sebelum resign, misalnya.

 

“Kak,” panggil Sandra lagi. Rengekannya sudah berhenti, digantikan dengan senyum manis.
Aku mengendus sesuatu yang tidak enak. “Apa?”
“Jangan nikung gue, ya,” kata Sandra dengan nada manja.
Aku terkekeh. “Tapi kalua sudah pasang sen, boleh belok, kan?”
Kemudian Sandra teriak dan merajuk.
-Kiat Nikung a la Cungpret-
-hlm. 246-

Sebuah Fase di Toko Sebelah

Pernahkah kita merasa begitu benar saat marah? Pernahkah kita merasa bersalah setelahnya?

Dua hari lalu, selepas bimbingan di kampus, gue ke masjid untuk ibadah. Lalu karena penat dengan bimbingan, gue berencana menonton Sekala Niskala yang baru aja muncul di bioskop. Gue yakin banget film itu enggak akan lama naik layar di Jabodetabek sini.

Lalu, gue telepon Mama. Seperti biasa, meminta izin dulu. Beliau tanya dengan siapa gue akan ke bioskop. Gue jawab sendiri. Untuk kedua kalinya, beliau melarang dengan tegas karena beliau takut gue dihipnosis. Lantas, enggak tahu bagaimana caranya, airmata mengalir begitu saja. Untung … untung gue di masjid dan gue angkatan tua. Jadi enggak ada yang kenal gue, dan dengan begitu enggak ada yang bertanya kenapa gue menangis.

Airmata enggak mau berhenti. Mengalir begitu saja. Gue enggak sesenggukan. Hanya menangis. Karena beberapa tahun lalu gue memang sering banget nonton sendirian. Tapi sekitar dua tahun belakangan, gue lebih sering nonton dengan teman.

Saat itu gue merasa ada sesuatu yang direnggut. Sesuatu yang Mama renggut dari gue. Kebebasan. Sebagai seorang penyendiri, gue paham betul kami butuh waktu sendiri. Waktu sendiri adalah waktu mengisi ulang energi kami. Gue butuh itu. Gue butuh menikmati kesendirian. Jalan-jalan sendiri. Bicara pada diri sendiri. Mendengarkan diri sendiri.

Gue marah. Tapi, seperti biasa, daripada berdebat dengan beliau, gue memilih diam. Dia memendam. Gue membiarkan diri gue hancur di dalam daripada harus menghancurkan beliau. Kemarahan ini gue tumpahkan ke kakak gue. Sedikit lega. Dan gue tumpahkan kepada Dia. Superlega.

Entah bagaimana caranya semesta menyuruh gue, malam ini gue menonton Cek Toko Sebelah (Ernest Prakasa, 2016)—newsflash, gue nontonnya di Klik Film kok.

Seperti ulasan gue sebelumnya di sini, gue sangat amat menyukai dan menikmati film ini. Meskipun sudah menontonnya berkali-kali, tapi rasanya selalu berbeda. Saat lagu The Overtunes muncul, I Still Love You, gue langsung menangis tersedu-sedu. Ingat kemarahan gue kemarin ke Mama.

If someday your feet can’t touch the ground
If someday your arms can’t feel my touch
If someday your eyes can’t see my face
I’ll carry you, be there for you, anytime of day

Gue langsung terbayang jika suatu hari Mama tidak lagi berdaya. Jika suatu hari Mama tak bisa lagi berbicara untuk sekadar ngedumel. Jika suatu hari Mama hanya bisa menatap dan tersenyum.

“Apakah gue akan punya energi untuk izin keluar? Apakah gue akan punya energi untuk ingin keluar dan membiarkannya sendiri dalam segala keterbatasan?”

Gue rasa tidak. Gue rasa, saat itu yang ingin gue lakukan hanya berada di sana. Menyentuhnya. Menatapnya. Memeluknya. Melakukan apa pun asalkan bukan meninggalkannya.

Kemarahan gue kemarin mungkin seperti kemarahan Yohan kepada Koh Afuk. Mungkin seperti kemarahan Koh Afuk kepada Yohan. Kemarahan yang akan berlalu pada satu waktu. Kemarahan yang akan luluh karena sebuah pemahaman.

Kemarahan yang akan mendewasakan.

Gue selalu percaya kita punya fase kita masing-masing. Seperti Koh Afuk, Yohan, dan Erwin. Kita punya fase kita masing-masing untuk bisa memaafkan, untuk bisa melepaskan, untuk bisa memahami. Tidak harus sekarang. Tapi nanti akan.

Terima kasih, Koh Ernest. Terima kasih untuk karya menakjubkan ini. Sebuah karya yang menyenangkan. Sebuah karya yang menghangatkan. Sebuah karya yang dekat. Sangat amat dekat.

Dermaga dan Caranya Melepaskan

Aku melihat jam di tangan kanan, hanya untuk meyakinkan diri agar berlari lebih kencang. Karena aku terlambat dalam janjian dengan Anne. Sore ini—setidaknya begitulah seharusnya—kami berjanji untuk bertemu di dermaga di utara Jakarta. Dan sialnya, aku justru sampai saat jarum jam menunjukkan pukul 7 petang. Padahal agenda kami, seharusnya, menyaksikan senja, setelah sekian lama tidak bertemu.

Sorry, Ne… the traffic was awful….” ujarku terengah saat duduk di sampingnya.

Ia pun tersenyum. “It’s okay, Jas. Sendiri?” tanyanya kemudian.

“Ya… sama siapa?” tanyaku balik, sembari tertawa kecil.

“Jiwa?” ujarnya dengan nada menyelidik.

Aku pun kembali tertawa. “What the hell, Ne?”

I don’t know. You tell me…” ujarnya lagi sembari mengarahkan duduknya menghadapku.

Aku hanya tersenyum seadanya. Jiwa adalah temanku. Teman dekat. Dekat sekali. Tetapi kami tidak ada apa-apa. Setidaknya dari pihakku.

“Tiga tahun kita enggak ketemu, dan pertanyaan pertamamu justru soal Jiwa?” ujarku kemudian.

Excuse me? Biar aku ingatkan kalau kamu lupa, Jasmine. Hari Minggu pekan lalu, kita ketemu bareng dengan teman-teman yang lain, di mana di sana aku sudah tahu kesibukanmu saat ini apa, kabar keluargamu gimana, bonus lihat seorang Jiwa Sadega menjemputmu. Jadi, pertanyaan apa lagi yang bisa lebih tepat dari: Are you dating him, aren’t you?”

Aku tertawa singkat dan kecil. “Well… it’s noting like that, Ne. Kami enggak pacaran. Kan beda agama, Ne…” jawabku dengan suara kecil.

Anne terdiam. Mengalihkan pandangannya ke belakangku. Kemudian ia mendongakkan kepalanya, sembari memejamkan mata. Aku pun melakukan hal yang sama. Angin utara Jakarta malam itu sejuk. Tidak cukup kencang untuk berlayar sepertinya. Dan mengingat Anne, berarti mengingat Gina dan Egi.

Dua orang yang sempat membuat hatiku remuk dan tidak keruan. Pun, dua orang yang mengajarkanku bagaimana melepaskan.

“Jas…” suara Anne menarikku kembali ke dermaga. “Kamu sudah tahu kalau Gina dan Egi lagi persiapan mau nikah?”

Deg…..

“Oh iya?” jawabku seadanya.

“Iya… dengar-dengar kalau lagi pada ngumpul sih, anak-anak suka pada nanya ke Gina dan Egi, gimana persiapannya. Kadang mereka pun enggak ikut kumpul karena ya… itu, sibuk nganuin peranuan.”

Aku mengulum bibir. Egi adalah mantan kekasihku beberapa tahun lalu. Aku pernah jatuh hati dan tergila-gila padanya. Meski hubungan kami lebih sebentar daripada usia jagung, namun aku tidak bisa berbohong mengenai betapa aku pernah sebegitu jatuh hatinya pada ia.

Gina. Satu nama yang ingin sekali aku enyahkan. Seseorang yang selalu menerima curahan hatiku tentang Egi. Tentang betapa menyakitkannya harus berpisah dari Egi hanya karena ia belum berani untuk berkomitmen. Tentang betapa hati ini sudah jatuh dengan manis dan indah pada laki-laki itu.

“Jas… are you okay?” lagi-lagi Anne mengagetkanku.

“Ya… jadi gimana mereka? Sudah mau menikah? Wah bagus dong, ya.. Gina did right to him. Kapan, Ne?” ujarku kemudian, diiringi senyum memaksakan.

“Bulan depan, Jas. Kamu benar-benar enggak apa-apa?”

“Aku apa-apa pun, Ne, enggak masalah. Enggak ada yang bisa aku lakukan, kan?”

Anne pun tersenyum. “Seorang Jasmine yang dulu nangis-nangis tentang Egi, yang dulu tergila-gila sama Egi, yang dulu setiaaaaaap hari ceritanya soal Egi. Dan sekarang…. where the hell on earth you’ve been, Lady?”

Aku pun tergelak. “Aku belajar, Ne. Aku pun enggak melihat kesalahan mereka di mana. Di mataku, aku hanya merasa sakit. Dan itu bukan persoalan benar atau salah, kan? Aku hanya sedang menjadi anak kecil saat itu. Kemudian aku memilih memulihkan diri dengan beranjak. Semisal mereka berjodoh pun, aku enggak mungkin menjadi penyebab mereka enggak bertemu, kan? Toh, aku sudah menjadi sebab mereka bertemu. That’s what matters.”

Anne bertepuk tangan kecil. “Nice speech….

“Aku terdengar lemah, ya?”

“Enggaklah! Justru kamu terdengar sangat kuat. Tapi jujur, ya…. hatimu gimana?”

Aku tersenyum. “Yang jelas, sedang tidak baik-baik saja, Ne. Enggak mungkin juga baik-baik saja kalau aku sedang jatuh hati dengan laki-laki yang berbeda keyakinan, kan?”

Mata Anne melebar, kemudian dia menutup mulut dengan kedua tangannya. Aku kemudian tersenyum. Ia menghampiri dan memelukku. Cahaya langit kian meredup. Lampu-lampu di pinggiran dermaga hanya berbicara seperlunya. Bayangan kami lebih besar dari diri kami sendiri. Aku balas memeluknya.

“Aku enggak tahu gimana caranya kamu bisa bertahan hidup sampai sekarang, Jas…”

“Sederhana, Ne… belajar melepaskan. Karena pada akhirnya… hidup adalah tentang melepaskan, kan?”

September

Hai teman apa kabar? Lama tak ku dengar suaramu. Apa harimu bermentari? Adakah malam dihiasi mimpi? –Hai (Monita, Dandelion, 2015)

Malam itu aku sulit tidur. Hari menjelang acara hari jadi pertama komunitas yang mempertemukan kita. Maret. Bulan ketiga dalam kalender masehi itu menjadi penanda kita bertemu pertama kali. Tidak secara harfiah, tapi… kita bertemu.

Meski kebersamaan kita hanya berlangsung selama empat bulan, namun ada perasaan sayang yang—entah bagaimana—menghangat.

Perjalanan menuju suatu tempat yang lumayan jauh dan dingin itu meninggalkanku tetap duduk manis dan terlelap di balik penutup mata.

Sejujurnya, perjalanan tersebut adalah sebuah upaya yang aku lakukan untuk mengerdilkan diri dari segala riuh dunia yang sedang enggan aku sapa. Maka aku membiarkan diriku duduk seakan mengucilkan diri di sana, mengurung diri di kamar, memperbanyak tidur, mengasingkan diri. Aku sedang menyembuhkan diri. Aku sedang menyembuhkan hati.

Kita semua sadar, bahwa tidak akan ada yang bisa menyembuhkan luka-luka dan duka-duka di dada kita selain diri kita sendiri, bukan? Tidak si A, tidak si B, tidak siapa pun. Tidak juga waktu.

Sore menjelang, dan aku mencampurkan diri. Menjadi bagian dari tawa kalian, menjadi bagian dari keriuhan dunia yang mulai aku jabat tangannya. Menyapa keramaian meski malu-malu. Aku bertemu kamu, kamu, dan… iya… aku juga bertemu kamu.

Sekali waktu aku tertawa bersama kamu, lalu aku berbicara serius dengan kamu yang lain, kemudian aku menangkap tatapan malu-malu dari kamu yang lari tunggang langgang saat ingin kusambut. Dan tidak jarang, aku nyaman dengan diam dan memerhatikan. Melihat dan meresapi.

Membingkai, dan menyimpannya di hati.

Aku tahu aku bukan lagi siapa-siapa di antara kalian. Aku hanya perempuan entah siapa yang datang dan banyak omong. Aku hanya perempuan entah siapa yang tertawa melihat tawa kalian. Aku hanya perempuan entah siapa yang jatuh hati pada kalian.

Bahkan, aku beberapa kali bertengkar dengan beberapa di antara kalian. Tetapi tidak apa, bukan? Karena, kata Boy dalam Catatan Si Boy (2011), enggak ada keluarga yang baik-baik saja. Dan begitulah kita.

Aku belajar bahwa betapa manisnya pelukan selepas pertengkaran. Aku belajar, tidak peduli seberapa tidak sukanya aku pada tektek bengek, aku akan tetap menyayangi kalian. Aku belajar, bahwa tidak apa-apa menjadi tidak apa-apa.

Terima kasih, Kawan-kawan. Atas waktu-waktu berharga yang kalian berikan. Atas tawa yang kalian bagikan. Atas mengenaliku sebagai seseorang.

Pekan depan, bulan depan, dua tahun ke depan, mungkin kita semua akan menjadi pribadi yang berbeda dari diri kita pada 10-11 September kemarin. Tetapi kenangan tidak bisa diubah. Ia menetap, menghangat, dan membahagiakan.

Tidak banyak yang aku pinta. Hanya jangan lupa caranya menjadi manusia, dan berbahagialah selagi bisa.

Ada doa kecil yang kuselipkan atas nama kalian; selalu menjadi orang baik, luar biasa, dan dapat bertemu kembali di kemudian hari.

 

Di mana pun kalian berada, ku kirimkan terima kasih. Untuk warna dalam hidupku dan banyak kenangan indah. Kau melukis aku. –Monokrom (Tulus, Monokrom, 2016)

Tujuh Puluh Sembilan, Lima Juli

Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Laaillahaillallah Huwallahuakbar….

 

Malam takbiran ke-dua puluh tigaku. Enggak ada yang istimewa selain jatuh pada tanggal 5 Juli 2016. Apa yang membuatnya istimewa? Sederhana dan manis; bertepatan dengan ulang tahun ke-tujuh puluh sembilan Eyang Uti.

Di bawah suara kembang api dan petasan, aku mengenang masa-masa itu. Saat segalanya masih begitu manis dan indah. Aku duduk di pangkuan Eyang Kakung selepas ibadah Maghrib dan Isya’, mendengar dan merasakan dadanya mengeja takbir. Mengagungkan-Nya. Wangi Eyang Kakung masih khas. Sudah kusimpan pada kotak kecil berlabel Cinta.

Dua ribu enam. Tidak ada lagi suara serak—khas mantan perokok—Eyang Kakung. Tidak apa. Aku masih indah mengeja takbir bersama ibu, paman, bibi, saudara, dan tentunya… Eyang Uti.

Perempuan hebat itu lahir di kota kecil dekat Yogyakarta. Besar di tangan juragan batik setempat. Meski pendidikannya tidak sampai pada perguruan tinggi, namun ilmunya jauh di atas rata-rata. Perempuan hebat di balik kedudukan tinggi Eyang Kakung di pemerintahan kala itu, adalah seorang penggemar olahraga, apalagi voli. Aku yakin, jemarinya memang dianugerahkan-Nya dengan kehebatan super. Tidak hanya bola yang dapat melayang dan melahirkan poin, namun jemarinya juga dengan ahli menakar bumbu masakan serta merasakannya tanpa mendaratkan masakannya ke lidah.

Pagi itu, selepas bercengkerama malam harinya, ia collapse. Pertama kalinya. Dan semenjak itu, aku begitu akrab dengan kehidupan rumah sakit. Hampir setiap hari berangkat dan pulang ke rumah sakit. Tidak apa. Toh, pulang adalah di mana ibu, Eyang Kakung, Eyang Uti, dan kakakku berada.

Dua ribu tiga belas menuju dua ribu empat belas. Adalah masa-masa terberat, sekaligus terindah. Aku sadar, bahwa sebagaimana pun ia memuji cucunya yang lain, sebagaimana pun ia merindu cucunya yang lain, namun aku tetaplah yang paling ia cinta. Aku percaya, hingga detik ini.

Gagal ginjal bergumul dengan struk. Masa-masa berat itu membawaku kembali akrab dengan rumah sakit. Kehilangan, meratap, berharap, bahagia, ditinggalkan, sedih, merana, ah…. semuanya sangat lekat, dekat. Kapan saja, aku bisa menjadi yang ditinggalkan, bukan?

Akhir pekan yang indah mengantarku rutin bersamanya di ruang cuci darah suatu rumah sakit. Menyaksikan wajahnya mengernyit setiap kali disuntik adalah rutinitas yang menyesakkan, namun harus.

Sampai akhirnya, ia harus dirawat secara intensif di ruang ICU. Dan di antara semua cucunya, akulah yang paling terakhir masuk. Aku hanya mampu memandangnya tak berdaya di atas kasur dari luar, melalui jendela. Berkali-kali aku menangis di dalam dekapan bibi, sepupu, ibu, dan siapa saja yang tahu bagaimana koneksi antaraku dengannya.

Ia yang lebih memilih dijaga olehku dibandingkan oleh bibiku. Ia yang begitu gemar memakan camilan Chitato rasa keju. Ia yang begitu gemar tertawa. Ia yang rutin mengeja nama setiap cucunya di setiap doa. Ia yang tak pernah lepas bangun dan bersujud di sepertiga malam terakhirnya. Ia yang tak pernah melewatkan khatam Al-Qur’an di setiap Ramadannya. Ia yang aku cinta.

Dua puluh empat November dua ribu empat belas.

Aku ditinggal saat sedang cinta-cintanya. Namun, hal ini tidak mengajarkanku untuk mencintai tidak perlu penuh. Sungguh.

Tujuh puluh sembilan itu gagal ia capai. Tapi tidak apa. Ia masih akan merayakan 5 Juli-nya setiap tahunnya, di hatiku. Sampai 9 Oktober-ku Dia renggut.

Ia, yang pergi saat aku sedang cinta-cintanya….

Selamat beristirahat di liangmu yang lapang, Eyang Sayang. Pasti di sana jauh lebih terang daripada di kamarmu yang dulu, kan? Tak ada lagi infus, tak ada lagi obat, tak ada lagi mesin pencuci darah, tak ada lagi aku. Tapi akan selalu ada engkau, Eyang Sayang.

Terima kasih atas kehidupan ini. Terima kasih atas setiap doa. Terima kasih karena engkau pernah dan akan selalu ada, Eyang Sayang.

Kepada, perempuan hebat sebelum Mamah,

Dari, perempuan (yang akan hebat) setelah Mamah.

 

Slamat jalan… Sampai jumpa. Tuhan yang aku cinta, mudahkan jalan dia. Tuhan yang aku cinta, sambut kehadirannya. –Sampai Jumpa (Sheila On 7, Musim yang Baik, 2014)

Mencintailah dengan Berani

Stuck in a moment of emotion I destroyed. Is this the end I feel? Up in the air, fucked up on life. –Up In The Air (Love, Lust, Dream, Thirty Seconds To Mars, 2013)

 

“She has something that I don’t.” “She’s so beautiful.”

Berapa banyak dari kamu, atau temanmu yang kerap mengeluarkan pernyataan tersebut? Angkat kaki! Eh salah, angkat tangan! Angkat kaki juga boleh kok, dari Bumi. Pindah sok ke Saturnus atau ke Matahari juga boleh.

Seorang sahabat saya, pernah mengatakan itu, “Dia punya yang aku enggak punya, Ca.”

Apa jawaban saya? “Oh ya jelas. Begitu pun, kamu memiliki sesuatu yang dia enggak punya, pun yang aku enggak punya. Dan, aku memiliki sesuatu yang kamu enggak punya. Itulah kehidupan.”

Mengapa pusing, Sayang? Setiap orang itu luar biasa dengan cara mereka—ehem kita—masing-masing. Saya percaya, bahwa saya memiliki sesuatu yang enggak dimiliki oleh Putri Diana, pun—jelas bangetlah—beliau memiliki sesuatu yang saya enggak miliki. Lalu permasalahannya di mana?

“Your ex is so beautiful.” Lalu mengapa, Sayang?

Ya, mereka mungkin cantik. Tetapi mengapa pusing? Saat ini, laki-laki itu, sedang duduk di sisimu, menenun kisah bersama, merakit mimpinya denganmu, berusaha menjadi laki-laki hebat di matamu, dan…. mencintaimu dengan cintanya yang manis. Apa yang kamu pusingkan?

Apa yang lebih menyenangkan dari mengetahui bahwa betapa cantiknya perempuan yang pernah ia pacari itu, namun kini ia tetap beriringan bersamamu?

“Ya namanya juga perempuan, cemburu wajar, kan?”

Iya, wajar. Banget. Tetapi, plis…. seperlunya saja, ya? Jadilkan kecemburuan seperti sambal yang pedasnya bikin makanan makin enak dan nagih.

Takut kehilangan itu manusiawi. Tapi cinta yang dengan iman itu meniadakan rasa takut. Kita semua ingin dicintai seorang yang berani. –Zarry Hendrik

Cemburulah secukupnya, Sayang. Mencintailah semanis mungkin, Sayang. Saya, seseorang yang sedang berusaha jatuh cinta dengan berani atas cinta yang sia-sia, hanya ingin kamu tahu: bahwa kamu beruntung. Karena setidaknya, kamu tidak takut mengatakan betapa kamu menyayanginya, betapa kamu ingin terus bersamanya, betapa kamu merindunya, betapa kamu…. merasa bahagia memilikinya.

Mohon disimak dan ingat: Bahwa kita semua istimewa dan indah dengan cara kita masing-masing. Berhentilah melakukan pembandingan dan spekulasi. Kamu hanya akan menemukan dirimu tidur panjang pada kekecewaan. Karena sampai kapan pun, seberapa pun kamu menganggap dirimu tidak lebih baik dari siapa pun, akan selalu ada seseorang yang menganggap dirimu jauh lebih indah dari dirinya.

Tetapi, adakah yang lebih manis dari mengetahui mereka tetap memilih bersamamu, seburuk apa pun keadaanmu? Saya rasa, enggak ada.

Selamat jatuh hati dengan berani, Sayang. Terimalah bahwa kita hidup berdampingan dan saling melengkapi. Kamu enggak perlu selalu punya apa yang saya punya, begitu pun sebaliknya. Dan… begitu pun semanisnya, bukan?

 

Tulisan ini saya persembahkan secara khusus untuk kedua sahabat saya yang sedang menjatuhkan hatinya pada laki-laki yang telah mereka pilih. Saya ingin mereka mencintai dengan manis dan berani. Menikmati yang kini hingga menjadi kenang nanti. Di atas segalanya, saya menyayangi kalian, Sadra dan Fadhlia….

 

Barangkali memang, manusia baru berarti ketika tak memaksakan diri lepas dari berbagai ketidakberartian hidupnya. –Adimas Immanuel

 

 

Waktu yang (Belum) Tepat

So why don’t we just play pretend. Like we’re not scared of what is coming next. Or scared of having nothing left. –All I Ask (Adele, 25, 2015)

Sore manis di kota Yogyakarta. Kota dengan ritme yang seringan tak-tuk-tak-tuk suara sepatu kuda di sekitaran Alun-alun Keraton. Di sana, di hadapan tugu yang menjulang, di hadapan miniaturnya, di hadapan kenyataan… kita kembali berjabat tangan, bertukar senyum, tawa, dan entah… sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh indra.

Berkali-kali tangan kita bersentuhan. Dan setiap kali itu pula, hatiku seakan dicubit dan dipeluk di saat bersamaan. Manis dan getir melebur di hari itu.

Aku enggak tahu, apakah kamu memperlakukanku semanis kamu memperlakukan teman perempuanmu yang lainnya, tetapi di mataku, apa yang kamu lakukan kepadaku, jelas berbeda dengan apa yang kamu lakukan kepada teman perempuan kita.

Bodoh kalau aku enggak mengakui bahwa kamu memiliki perasaan yang berbeda kepadaku; dibandingkan dengan ke teman kita yang lain. Bodoh kalau aku enggak melihat kamu memperlakukanku dengan istimewa. Bodoh kalau aku enggak bahagia. Tetapi, aku pun enggak buta atas sikapmu yang masih enggak mau mengakui perasaan itu. Aku sadar, sepenuhnya.

Sentuhan, tatapan, panggilan, dan segala gerakmu padaku terasa begitu memekakkan. Membuatku ingin sudah saja. Begitulah kamu; dapat menjadi menyebalkan dan menyenangkan di saat yang nyaris bersamaan. Manis.

Entahlah, barangkali perkara sakitmu di masa lalu itu, atau memang bagimu, waktunya masih belum—atau bahkan tidak akan pernah—tepat. Dan, untuk yang pertama kalinya, aku datang terlalu cepat, meski dengan rasa yang tepat.

Malam itu, rinduku terbayar. Dengan penuh. Dan, di bawah sorotan lampu jalanan, ditemani gelak anak-anak muda, diaromai wedang ronde, aku sadar bahwa kamu tidak pernah punya cinta itu untukku; tidak hari ini, tidak kemarin, dan tidak kelak. Pun, kita yang pernah indah, hanya indah dan manis di mataku, tidak untukmu. Dan itu tidak apa, bukan?

Meski segalanya terasa kian pahit, namun aku ingin kamu tahu bahwa kita pernah manis di dalam benakku. Khayalan tentang esok yang indah, manis, dan hangat memeluk kita di pinggir jalan, di tengah derai hujan, dan bahkan di dalam selimut membagi kisah bersama hingga larut. Dan aku masih ingin merawat mimpi-mimpiku tentangmu di dalam benak. Menyimpan yang manis tentang kita meski tak akan ada kelak.

Aku tahu, aku sadar, bahwa kamu memang begitu mudah naik-turun. Dan aku paham, Sayang. Itulah, aku memutuskan untuk menikmati detik-detik terakhir kita, tanpa ingin tahu bagaimana esok.

Barangkali kelak, saat kamu merasa segalanya sudah tepat, aku sedang berada di suatu tempat, dan ingin pergi dengan cepat; Jangan sekarang. Atau, kamu tidak akan pernah merasa tepat, sementara aku duduk di suatu ruang, berharap kamu lekas datang.

Selamat berbahagia, Sayang. Aku pamit. Dan untuk sekali saja… aku ingin mengakui bahwa aku tidak baik-baik saja.

 

Kepada, kamu yang sedang tidak jatuh cinta..

Dari, seseorang yang rela mendengarkanmu dengan khidmat, menikmati suaramu, mengingat setiap sentuhanmu, memikirkan bagaimana pergi darimu, mengeja kamu dengan rasa yang indah dan manis, seseorang yang akhirnya merasa tidak baik-baik saja setelah menjatuhkan cintanya kepadamu….

 

Cause I’m going crazy when I’m not okay. I keep praying that the cracks don’t show my pain. Cause even when I’m falling, I say my life is like a dream. But I’m fighting through a nightmare.—You Don’t Really Know Me (Jessie J, Sweet Talker, 2015)

Berbahagialah

“Andai saja cintamu seperti cintaku…” –Sheila On 7 (Mudah Saja, Menentukan Arah)

 

“Kamu ingat, enggak, hari itu kita seperti dua sahabat lama yang akhirnya bertemu. Dengan sigap, kamu mengambil bukuku yang basah. Dengan seenaknya—dan tentunya seakan sudah kamu lakukan berkali-kali—kamu mengambil air mineralku. Dan aku, seseorang yang paling anti-meminta ini, enggak enggan meminta minummu,” aku pun tergelak.

Ia tersenyum.

Aku menghela napas pelan. Memejamkan mata. Mengingat lagi, mengeja lagi. Perasaan yang—ternyata—masih sama, hingga kini. “Dan kamu ingat, enggak, waktu kita keluar dari tempat makan itu, kamu langsung menyejajarkan langkah denganku, dan—lagi-lagi seakan sudah kamu lakukan ratusan bahkan ribuan kali—kamu mengambil payungku. Kita kayak dua orang yang sudah kenal bertahun-tahun. Padahal waktu itu baru masuk bulan ketiga…” aku kembali tergelak kecil.

Ia masih bergeming dan tersenyum.

“Aku enggak tahu apa yang salah pada kita saat itu, tetapi aku merasa masa-masa itu enggak seharusnya berakhir, Juna. Aku menikmati mengganggumu di ruang obrolan. Menimbun chat yang bakalan berakhir dengan kamu yang menyahut, ‘Bodo amat, Dru.’.”

“Lalu kenapa semuanya kamu akhiri, Dru?”

Aku mengernyit.

“Lalu kenapa kamu memutuskan lenyap, Dru?”

Aku memejamkan mata.

“Drupadi, kenapa kamu selalu tampak baik-baik saja di hadapan yang lain?”

Dan kini aku ingin enyah—lagi. Aku memandangnya. Hatiku kecut. Ada sesuatu yang menarikku ke belakang. Ke masa di mana segalanya seakan baik-baik saja, padahal tidak. Ke masa di mana segalanya terlihat biasa-biasa saja, padahal tidak. Ke masa di mana kami seakan dua sahabat baik, padahal…. kami jauh dari baik-baik dan biasa-biasa saja.

Aku pun menggeleng seakan tidak percaya. “Sebegitu tidak pekanyakah kamu, Juna? Atau seahli itukah aku berakting? Ingatkah kamu kita pernah sama-sama berbahagia meski singkat? Mungkin kita pernah berakhir atas sikapku yang melukaimu. Tetapi, Juna, percayalah…. kamu enggak akan pernah mau merasakan luka dan duka semenyesakkan ini. Juna…. aku lelah mengakui segalanya baik-baik saja, padahal tidak. Aku lelah, Juna…..”

“Dru….”

“Aku tahu… hingga saat ini, apa yang pernah kita bagi itu sudah kamu anulir. Tidak denganku, Juna….” aku tersenyum. “Segalanya masih lekat pada benakku. Menempel semanis kembang gula di dalam sini. Tapi itu bukan masalah untukku. Satu, saja, Juna…. aku mohon…. berdamailah dengan dirimu sendiri. Jangan siksa dirimu atas kisah-kisah lalu. Kamu berhak atas apa pun yang lebih baik dari yang sudah lalu dan merenggut keinginanmu untuk jatuh hati. Apa pun. Kamu berhak atas sesuatu yang lebih baik. Dan kamu enggak akan maju kalau kamu enggak belajar memaafkan, Juna.”

Ia masih bergeming.

“Waktu enggak akan selamanya merawat lukamu. Juna, aku enggak meminta kamu merawat lukaku. Tapi, tolong… rawat lukamu sendiri. Waktu bukan ibu. Kamu hanya perlu memaafkan dirimu sendiri.”

“Tapi, Dru… kamu enggak merasakannya…”

“Aku tahu, aku enggak merasakannya, Juna. Tetapi aku tahu, aku tahu setiap manusia berhak berbahagia. Berhak terlepas dari segala yang melemahkan mereka, dari segala yang melemahkanmu, Juna….”

Kami berpandangan. Jemarinya hangat menyentuh jemariku.

“Dru….”

“Juna, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.”

“Bagaimana bisa kamu masih berbahagia atas luka-luka dan duka-dukamu, Dru?”

Aku tersenyum. “Aku hanya perlu jatuh cinta setiap saat, Juna. Aku berbahagia atas itu. Dan aku merasa cukup…”

“Ada berapa banyak luka yang menempamu, Dru?”

Aku tergelak. “Kamu enggak akan mau tahu, Juna….”

“Jika aku boleh tahu, Dru, pernahkah kamu berhenti jatuh hati padaku?”

Aku kembali tergelak, kemudian aku tersenyum, “Sesuatu yang aku enggak tahu gimana berhentinya, ya perkara satu itu.”

 

Plak! Pukulan ringan di bahu, seakan bandul yang menarikku, “Dicari Juna tadi, Dru!”

“Ha? Juna siapa?” tanyaku kikuk.

“Arjuna!” jawab suara tadi.

Aku menggigit bibirku. Arjuna. Nama yang membuat hatiku kecut dan bersemi dalam waktu bersamaan. Dan di sana, aku melihat tubuhnya yang jenjang, kedua tungkai kakinya yang panjang-panjang berjalan ke arahku, dengan senyumnya yang paling manis dan membuat hatiku mencelos.

Ia pun mengulurkan tangannya demi memotong jarak di antara kami, “Drupadi! Apa kabar?”

“Arjuna…” suaraku parau. “Apa kabar?”

Ia masih tersenyum, “Ke mana saja?”

Dan hari itu, ditemani debur ombak, memandang kawanan burung terbang di kaki langit, aku merapal doa yang masih sama, “Oh Tuhan…. bahagiakan ia, berhakkan ia atas bahagianya. Dan cukup. Aku cukup. Aku penuh.”

 

Kepada kamu, huruf kesembilan dari belakang, seseorang yang masih manis dan rajin aku eja. Seseorang yang mulai akrab dengan buku-buku tanganku yang menengadah. Seseorang yang pernah, masih, dan aku harap akan terus ada… aku hanya ingin kamu berbahagia atas apa pun yang kini kamu rasa dan kamu damba.

Ingat saja, kamu berhak atas kebahagiaan itu.

Berbahagialah atas hidupmu. Berbahagialah atas dirimu. Berbahagialah atas bahagia itu sendiri.

Meredup

“Sebegitu-salahnyakah punya harapan?” –Zarah, Supernova: IEP (2016)

Aku tersenyum saat membacanya. Hari itu, aku seakan diwakili oleh Zarah. Di bawah malam yang meremang, diangin-anginkan kenang. Aku masih mengeja harap padanya. Laki-laki menyebalkan yang melalui sentuhannya, membuatku mabuk kepayang dan kepayahan hingga detik ini.

“Chaska pernah bilang, jangan sampai harapan membuat kita buta pada kenyataan.” –Gio, Supernova: IEP (2016)

Senyum kembali menyungging. Gio menjawabku. Aku seakan dihantam kenyataan bahwa kami jelas-jelas sudah tutup buku. Tidak akan ada lagi ia yang jahil merangkul atau mencubitiku, tidak akan ada lagi ia yang mengambil kulit ayam krispiku, tidak akan ada lagi ia yang semanis dulu saat mengambil alih payung jinggaku.

Segalanya sudah selesai tepat saat itu semua baru saja dimulai. Aku tidak ingin berdiri dan menuding siapa yang salah. Karena, Sayang, sesungguhnya perkara hati tidak pernah ada yang tepat dan tidak pernah ada yang salah.

Rasakan saja, jatuh saja, dan relakan saja.

Hari lalu pernah datang dan bertandang bersamanya di sisiku. Tersenyum penuh arti, menjabat tanganku di hadapan kenyataan. Hari lalu juga pernah mampir pada kami, di bawah terik matahari, di bawah rintik hujan timur Jakarta. Hari lalu, pernah menjadi milik kami di atas piring nasi goreng jalanan, di dalam botol air mineral, di atas piring nasi ayamku.

Masa itu, adalah masa-masa di mana aku sedang sangat cinta-cintanya. Merasakan setiap detik berderik manis di bawah kulitku. Menikmati duduk di sisinya. Memerhatikan gerak-geriknya yang lincah, dan kini membingkainya. Mendengarkan suaranya yang cempreng, dan kini menyimpannya.

Semua tentangnya sudah rapi kuletakkan di dalam benak. Di sebuah kotak yang detaknya kian melemah. Namun tetap penuh arti.

“Aku masih ingin berharap meskipun cuma kepada udara kosong.” –Gio, Supernova: IEP (2016)

Ah, udara kosong. Sembari menghela perlahan, aku kembali bercermin. Sebanyak apa aku pernah melampaui diriku sendiri dalam berharap? Dan seakan tidak menemukan angka yang pasti, aku kembali tersenyum. Mempersilakan diriku untuk terus berharap.

Kepada apa pun. Udara kosong, remah roti, ataupun pada tingkahnya yang menyenangkan. Aku ingin sekali menaruh harap. Barangkali ia akan datang lagi seperti sedia kala. Tersenyum manis, menjabat tanganku, dan kami kembali berkenalan.

Ingin sekali rasanya lenyap dari hidupnya. Pergi ke Saturnus, mampir sebentar di Pluto, minum dan makan secukupnya. Membaca buku sebanyak mungkin di perjalanan menuju Saturnus. Duduk-duduk sebentar di satelit-satelitnya yang melingkar. Kembali ke Saturnus. Membaca… membaca…. hingga lupa mengeja ia. Hingga lupa padanya.

Dan kembali ke Bumi. Saat benakku sudah penuh dengan segala khayal tentang apa saja, tetapi bukan ia.

Dan mungkin kami akan kembali bertemu dengan ia dibalut kemeja merah marun, senada dengan kerudungku. Di hadapan benda-benda bersejarah, kami saling berjabat tangan kembali. Seperti dua orang sahabat lama yang menantikan hari ini.

Tanpa ada lubang menganga di dadaku. Tanpa ada benak yang bergolak ke masa lalu. Tanpa ada aku dan ia yang pernah saling mengindahkan.

Kembali menjadi dua orang asing. Kembali menjadi dua orang bodoh yang saling jatuh hati. Karena kini aku lelah jatuh hati dalam keadaan sebagai seorang pengecut.

Di atas segalanya…. aku hanya ingin kembali ke masa-masa di mana aku tidak perlu lagi memusingkan ia sedang apa, ia di mana, dan hatiku seakan dicabik setiap kali melihat tingkahnya yang nakal pada perempuan lain.

Dan, di hari pengais akhir di bulan lima ini, aku sepertinya harus mulai belajar memaafkan. Apa pun, siapa pun.

Ia, kami, dan bahkan diriku sendiri. Karena aku percaya, bahwa aku dan ia, sama-sama pantas atas hari esok tanpa terseok. Hari ini, aku harus belajar memaafkan. Perkara esok aku akan mendapatkan apa, biarkan menjadi misteri yang manis.

Ah, Sayang…. selamat berjalan lagi. Selamat menemukan lagi. Kutahu kau tahu aku ada….

“Kamu berhak atas lembaran baru. Tapi, kamu ndak akan maju-maju selama kamu belum belajar memaafkan.” –Kas, Supernova: IEP (2016)