Dermaga dan Caranya Melepaskan

Aku melihat jam di tangan kanan, hanya untuk meyakinkan diri agar berlari lebih kencang. Karena aku terlambat dalam janjian dengan Anne. Sore ini—setidaknya begitulah seharusnya—kami berjanji untuk bertemu di dermaga di utara Jakarta. Dan sialnya, aku justru sampai saat jarum jam menunjukkan pukul 7 petang. Padahal agenda kami, seharusnya, menyaksikan senja, setelah sekian lama tidak bertemu.

Sorry, Ne… the traffic was awful….” ujarku terengah saat duduk di sampingnya.

Ia pun tersenyum. “It’s okay, Jas. Sendiri?” tanyanya kemudian.

“Ya… sama siapa?” tanyaku balik, sembari tertawa kecil.

“Jiwa?” ujarnya dengan nada menyelidik.

Aku pun kembali tertawa. “What the hell, Ne?”

I don’t know. You tell me…” ujarnya lagi sembari mengarahkan duduknya menghadapku.

Aku hanya tersenyum seadanya. Jiwa adalah temanku. Teman dekat. Dekat sekali. Tetapi kami tidak ada apa-apa. Setidaknya dari pihakku.

“Tiga tahun kita enggak ketemu, dan pertanyaan pertamamu justru soal Jiwa?” ujarku kemudian.

Excuse me? Biar aku ingatkan kalau kamu lupa, Jasmine. Hari Minggu pekan lalu, kita ketemu bareng dengan teman-teman yang lain, di mana di sana aku sudah tahu kesibukanmu saat ini apa, kabar keluargamu gimana, bonus lihat seorang Jiwa Sadega menjemputmu. Jadi, pertanyaan apa lagi yang bisa lebih tepat dari: Are you dating him, aren’t you?”

Aku tertawa singkat dan kecil. “Well… it’s noting like that, Ne. Kami enggak pacaran. Kan beda agama, Ne…” jawabku dengan suara kecil.

Anne terdiam. Mengalihkan pandangannya ke belakangku. Kemudian ia mendongakkan kepalanya, sembari memejamkan mata. Aku pun melakukan hal yang sama. Angin utara Jakarta malam itu sejuk. Tidak cukup kencang untuk berlayar sepertinya. Dan mengingat Anne, berarti mengingat Gina dan Egi.

Dua orang yang sempat membuat hatiku remuk dan tidak keruan. Pun, dua orang yang mengajarkanku bagaimana melepaskan.

“Jas…” suara Anne menarikku kembali ke dermaga. “Kamu sudah tahu kalau Gina dan Egi lagi persiapan mau nikah?”

Deg…..

“Oh iya?” jawabku seadanya.

“Iya… dengar-dengar kalau lagi pada ngumpul sih, anak-anak suka pada nanya ke Gina dan Egi, gimana persiapannya. Kadang mereka pun enggak ikut kumpul karena ya… itu, sibuk nganuin peranuan.”

Aku mengulum bibir. Egi adalah mantan kekasihku beberapa tahun lalu. Aku pernah jatuh hati dan tergila-gila padanya. Meski hubungan kami lebih sebentar daripada usia jagung, namun aku tidak bisa berbohong mengenai betapa aku pernah sebegitu jatuh hatinya pada ia.

Gina. Satu nama yang ingin sekali aku enyahkan. Seseorang yang selalu menerima curahan hatiku tentang Egi. Tentang betapa menyakitkannya harus berpisah dari Egi hanya karena ia belum berani untuk berkomitmen. Tentang betapa hati ini sudah jatuh dengan manis dan indah pada laki-laki itu.

“Jas… are you okay?” lagi-lagi Anne mengagetkanku.

“Ya… jadi gimana mereka? Sudah mau menikah? Wah bagus dong, ya.. Gina did right to him. Kapan, Ne?” ujarku kemudian, diiringi senyum memaksakan.

“Bulan depan, Jas. Kamu benar-benar enggak apa-apa?”

“Aku apa-apa pun, Ne, enggak masalah. Enggak ada yang bisa aku lakukan, kan?”

Anne pun tersenyum. “Seorang Jasmine yang dulu nangis-nangis tentang Egi, yang dulu tergila-gila sama Egi, yang dulu setiaaaaaap hari ceritanya soal Egi. Dan sekarang…. where the hell on earth you’ve been, Lady?”

Aku pun tergelak. “Aku belajar, Ne. Aku pun enggak melihat kesalahan mereka di mana. Di mataku, aku hanya merasa sakit. Dan itu bukan persoalan benar atau salah, kan? Aku hanya sedang menjadi anak kecil saat itu. Kemudian aku memilih memulihkan diri dengan beranjak. Semisal mereka berjodoh pun, aku enggak mungkin menjadi penyebab mereka enggak bertemu, kan? Toh, aku sudah menjadi sebab mereka bertemu. That’s what matters.”

Anne bertepuk tangan kecil. “Nice speech….

“Aku terdengar lemah, ya?”

“Enggaklah! Justru kamu terdengar sangat kuat. Tapi jujur, ya…. hatimu gimana?”

Aku tersenyum. “Yang jelas, sedang tidak baik-baik saja, Ne. Enggak mungkin juga baik-baik saja kalau aku sedang jatuh hati dengan laki-laki yang berbeda keyakinan, kan?”

Mata Anne melebar, kemudian dia menutup mulut dengan kedua tangannya. Aku kemudian tersenyum. Ia menghampiri dan memelukku. Cahaya langit kian meredup. Lampu-lampu di pinggiran dermaga hanya berbicara seperlunya. Bayangan kami lebih besar dari diri kami sendiri. Aku balas memeluknya.

“Aku enggak tahu gimana caranya kamu bisa bertahan hidup sampai sekarang, Jas…”

“Sederhana, Ne… belajar melepaskan. Karena pada akhirnya… hidup adalah tentang melepaskan, kan?”

September

Hai teman apa kabar? Lama tak ku dengar suaramu. Apa harimu bermentari? Adakah malam dihiasi mimpi? –Hai (Monita, Dandelion, 2015)

Malam itu aku sulit tidur. Hari menjelang acara hari jadi pertama komunitas yang mempertemukan kita. Maret. Bulan ketiga dalam kalender masehi itu menjadi penanda kita bertemu pertama kali. Tidak secara harfiah, tapi… kita bertemu.

Meski kebersamaan kita hanya berlangsung selama empat bulan, namun ada perasaan sayang yang—entah bagaimana—menghangat.

Perjalanan menuju suatu tempat yang lumayan jauh dan dingin itu meninggalkanku tetap duduk manis dan terlelap di balik penutup mata.

Sejujurnya, perjalanan tersebut adalah sebuah upaya yang aku lakukan untuk mengerdilkan diri dari segala riuh dunia yang sedang enggan aku sapa. Maka aku membiarkan diriku duduk seakan mengucilkan diri di sana, mengurung diri di kamar, memperbanyak tidur, mengasingkan diri. Aku sedang menyembuhkan diri. Aku sedang menyembuhkan hati.

Kita semua sadar, bahwa tidak akan ada yang bisa menyembuhkan luka-luka dan duka-duka di dada kita selain diri kita sendiri, bukan? Tidak si A, tidak si B, tidak siapa pun. Tidak juga waktu.

Sore menjelang, dan aku mencampurkan diri. Menjadi bagian dari tawa kalian, menjadi bagian dari keriuhan dunia yang mulai aku jabat tangannya. Menyapa keramaian meski malu-malu. Aku bertemu kamu, kamu, dan… iya… aku juga bertemu kamu.

Sekali waktu aku tertawa bersama kamu, lalu aku berbicara serius dengan kamu yang lain, kemudian aku menangkap tatapan malu-malu dari kamu yang lari tunggang langgang saat ingin kusambut. Dan tidak jarang, aku nyaman dengan diam dan memerhatikan. Melihat dan meresapi.

Membingkai, dan menyimpannya di hati.

Aku tahu aku bukan lagi siapa-siapa di antara kalian. Aku hanya perempuan entah siapa yang datang dan banyak omong. Aku hanya perempuan entah siapa yang tertawa melihat tawa kalian. Aku hanya perempuan entah siapa yang jatuh hati pada kalian.

Bahkan, aku beberapa kali bertengkar dengan beberapa di antara kalian. Tetapi tidak apa, bukan? Karena, kata Boy dalam Catatan Si Boy (2011), enggak ada keluarga yang baik-baik saja. Dan begitulah kita.

Aku belajar bahwa betapa manisnya pelukan selepas pertengkaran. Aku belajar, tidak peduli seberapa tidak sukanya aku pada tektek bengek, aku akan tetap menyayangi kalian. Aku belajar, bahwa tidak apa-apa menjadi tidak apa-apa.

Terima kasih, Kawan-kawan. Atas waktu-waktu berharga yang kalian berikan. Atas tawa yang kalian bagikan. Atas mengenaliku sebagai seseorang.

Pekan depan, bulan depan, dua tahun ke depan, mungkin kita semua akan menjadi pribadi yang berbeda dari diri kita pada 10-11 September kemarin. Tetapi kenangan tidak bisa diubah. Ia menetap, menghangat, dan membahagiakan.

Tidak banyak yang aku pinta. Hanya jangan lupa caranya menjadi manusia, dan berbahagialah selagi bisa.

Ada doa kecil yang kuselipkan atas nama kalian; selalu menjadi orang baik, luar biasa, dan dapat bertemu kembali di kemudian hari.

 

Di mana pun kalian berada, ku kirimkan terima kasih. Untuk warna dalam hidupku dan banyak kenangan indah. Kau melukis aku. –Monokrom (Tulus, Monokrom, 2016)

Tujuh Puluh Sembilan, Lima Juli

Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Laaillahaillallah Huwallahuakbar….

 

Malam takbiran ke-dua puluh tigaku. Enggak ada yang istimewa selain jatuh pada tanggal 5 Juli 2016. Apa yang membuatnya istimewa? Sederhana dan manis; bertepatan dengan ulang tahun ke-tujuh puluh sembilan Eyang Uti.

Di bawah suara kembang api dan petasan, aku mengenang masa-masa itu. Saat segalanya masih begitu manis dan indah. Aku duduk di pangkuan Eyang Kakung selepas ibadah Maghrib dan Isya’, mendengar dan merasakan dadanya mengeja takbir. Mengagungkan-Nya. Wangi Eyang Kakung masih khas. Sudah kusimpan pada kotak kecil berlabel Cinta.

Dua ribu enam. Tidak ada lagi suara serak—khas mantan perokok—Eyang Kakung. Tidak apa. Aku masih indah mengeja takbir bersama ibu, paman, bibi, saudara, dan tentunya… Eyang Uti.

Perempuan hebat itu lahir di kota kecil dekat Yogyakarta. Besar di tangan juragan batik setempat. Meski pendidikannya tidak sampai pada perguruan tinggi, namun ilmunya jauh di atas rata-rata. Perempuan hebat di balik kedudukan tinggi Eyang Kakung di pemerintahan kala itu, adalah seorang penggemar olahraga, apalagi voli. Aku yakin, jemarinya memang dianugerahkan-Nya dengan kehebatan super. Tidak hanya bola yang dapat melayang dan melahirkan poin, namun jemarinya juga dengan ahli menakar bumbu masakan serta merasakannya tanpa mendaratkan masakannya ke lidah.

Pagi itu, selepas bercengkerama malam harinya, ia collapse. Pertama kalinya. Dan semenjak itu, aku begitu akrab dengan kehidupan rumah sakit. Hampir setiap hari berangkat dan pulang ke rumah sakit. Tidak apa. Toh, pulang adalah di mana ibu, Eyang Kakung, Eyang Uti, dan kakakku berada.

Dua ribu tiga belas menuju dua ribu empat belas. Adalah masa-masa terberat, sekaligus terindah. Aku sadar, bahwa sebagaimana pun ia memuji cucunya yang lain, sebagaimana pun ia merindu cucunya yang lain, namun aku tetaplah yang paling ia cinta. Aku percaya, hingga detik ini.

Gagal ginjal bergumul dengan struk. Masa-masa berat itu membawaku kembali akrab dengan rumah sakit. Kehilangan, meratap, berharap, bahagia, ditinggalkan, sedih, merana, ah…. semuanya sangat lekat, dekat. Kapan saja, aku bisa menjadi yang ditinggalkan, bukan?

Akhir pekan yang indah mengantarku rutin bersamanya di ruang cuci darah suatu rumah sakit. Menyaksikan wajahnya mengernyit setiap kali disuntik adalah rutinitas yang menyesakkan, namun harus.

Sampai akhirnya, ia harus dirawat secara intensif di ruang ICU. Dan di antara semua cucunya, akulah yang paling terakhir masuk. Aku hanya mampu memandangnya tak berdaya di atas kasur dari luar, melalui jendela. Berkali-kali aku menangis di dalam dekapan bibi, sepupu, ibu, dan siapa saja yang tahu bagaimana koneksi antaraku dengannya.

Ia yang lebih memilih dijaga olehku dibandingkan oleh bibiku. Ia yang begitu gemar memakan camilan Chitato rasa keju. Ia yang begitu gemar tertawa. Ia yang rutin mengeja nama setiap cucunya di setiap doa. Ia yang tak pernah lepas bangun dan bersujud di sepertiga malam terakhirnya. Ia yang tak pernah melewatkan khatam Al-Qur’an di setiap Ramadannya. Ia yang aku cinta.

Dua puluh empat November dua ribu empat belas.

Aku ditinggal saat sedang cinta-cintanya. Namun, hal ini tidak mengajarkanku untuk mencintai tidak perlu penuh. Sungguh.

Tujuh puluh sembilan itu gagal ia capai. Tapi tidak apa. Ia masih akan merayakan 5 Juli-nya setiap tahunnya, di hatiku. Sampai 9 Oktober-ku Dia renggut.

Ia, yang pergi saat aku sedang cinta-cintanya….

Selamat beristirahat di liangmu yang lapang, Eyang Sayang. Pasti di sana jauh lebih terang daripada di kamarmu yang dulu, kan? Tak ada lagi infus, tak ada lagi obat, tak ada lagi mesin pencuci darah, tak ada lagi aku. Tapi akan selalu ada engkau, Eyang Sayang.

Terima kasih atas kehidupan ini. Terima kasih atas setiap doa. Terima kasih karena engkau pernah dan akan selalu ada, Eyang Sayang.

Kepada, perempuan hebat sebelum Mamah,

Dari, perempuan (yang akan hebat) setelah Mamah.

 

Slamat jalan… Sampai jumpa. Tuhan yang aku cinta, mudahkan jalan dia. Tuhan yang aku cinta, sambut kehadirannya. –Sampai Jumpa (Sheila On 7, Musim yang Baik, 2014)

Mencintailah dengan Berani

Stuck in a moment of emotion I destroyed. Is this the end I feel? Up in the air, fucked up on life. –Up In The Air (Love, Lust, Dream, Thirty Seconds To Mars, 2013)

 

“She has something that I don’t.” “She’s so beautiful.”

Berapa banyak dari kamu, atau temanmu yang kerap mengeluarkan pernyataan tersebut? Angkat kaki! Eh salah, angkat tangan! Angkat kaki juga boleh kok, dari Bumi. Pindah sok ke Saturnus atau ke Matahari juga boleh.

Seorang sahabat saya, pernah mengatakan itu, “Dia punya yang aku enggak punya, Ca.”

Apa jawaban saya? “Oh ya jelas. Begitu pun, kamu memiliki sesuatu yang dia enggak punya, pun yang aku enggak punya. Dan, aku memiliki sesuatu yang kamu enggak punya. Itulah kehidupan.”

Mengapa pusing, Sayang? Setiap orang itu luar biasa dengan cara mereka—ehem kita—masing-masing. Saya percaya, bahwa saya memiliki sesuatu yang enggak dimiliki oleh Putri Diana, pun—jelas bangetlah—beliau memiliki sesuatu yang saya enggak miliki. Lalu permasalahannya di mana?

“Your ex is so beautiful.” Lalu mengapa, Sayang?

Ya, mereka mungkin cantik. Tetapi mengapa pusing? Saat ini, laki-laki itu, sedang duduk di sisimu, menenun kisah bersama, merakit mimpinya denganmu, berusaha menjadi laki-laki hebat di matamu, dan…. mencintaimu dengan cintanya yang manis. Apa yang kamu pusingkan?

Apa yang lebih menyenangkan dari mengetahui bahwa betapa cantiknya perempuan yang pernah ia pacari itu, namun kini ia tetap beriringan bersamamu?

“Ya namanya juga perempuan, cemburu wajar, kan?”

Iya, wajar. Banget. Tetapi, plis…. seperlunya saja, ya? Jadilkan kecemburuan seperti sambal yang pedasnya bikin makanan makin enak dan nagih.

Takut kehilangan itu manusiawi. Tapi cinta yang dengan iman itu meniadakan rasa takut. Kita semua ingin dicintai seorang yang berani. –Zarry Hendrik

Cemburulah secukupnya, Sayang. Mencintailah semanis mungkin, Sayang. Saya, seseorang yang sedang berusaha jatuh cinta dengan berani atas cinta yang sia-sia, hanya ingin kamu tahu: bahwa kamu beruntung. Karena setidaknya, kamu tidak takut mengatakan betapa kamu menyayanginya, betapa kamu ingin terus bersamanya, betapa kamu merindunya, betapa kamu…. merasa bahagia memilikinya.

Mohon disimak dan ingat: Bahwa kita semua istimewa dan indah dengan cara kita masing-masing. Berhentilah melakukan pembandingan dan spekulasi. Kamu hanya akan menemukan dirimu tidur panjang pada kekecewaan. Karena sampai kapan pun, seberapa pun kamu menganggap dirimu tidak lebih baik dari siapa pun, akan selalu ada seseorang yang menganggap dirimu jauh lebih indah dari dirinya.

Tetapi, adakah yang lebih manis dari mengetahui mereka tetap memilih bersamamu, seburuk apa pun keadaanmu? Saya rasa, enggak ada.

Selamat jatuh hati dengan berani, Sayang. Terimalah bahwa kita hidup berdampingan dan saling melengkapi. Kamu enggak perlu selalu punya apa yang saya punya, begitu pun sebaliknya. Dan… begitu pun semanisnya, bukan?

 

Tulisan ini saya persembahkan secara khusus untuk kedua sahabat saya yang sedang menjatuhkan hatinya pada laki-laki yang telah mereka pilih. Saya ingin mereka mencintai dengan manis dan berani. Menikmati yang kini hingga menjadi kenang nanti. Di atas segalanya, saya menyayangi kalian, Sadra dan Fadhlia….

 

Barangkali memang, manusia baru berarti ketika tak memaksakan diri lepas dari berbagai ketidakberartian hidupnya. –Adimas Immanuel

 

 

Waktu yang (Belum) Tepat

So why don’t we just play pretend. Like we’re not scared of what is coming next. Or scared of having nothing left. –All I Ask (Adele, 25, 2015)

Sore manis di kota Yogyakarta. Kota dengan ritme yang seringan tak-tuk-tak-tuk suara sepatu kuda di sekitaran Alun-alun Keraton. Di sana, di hadapan tugu yang menjulang, di hadapan miniaturnya, di hadapan kenyataan… kita kembali berjabat tangan, bertukar senyum, tawa, dan entah… sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh indra.

Berkali-kali tangan kita bersentuhan. Dan setiap kali itu pula, hatiku seakan dicubit dan dipeluk di saat bersamaan. Manis dan getir melebur di hari itu.

Aku enggak tahu, apakah kamu memperlakukanku semanis kamu memperlakukan teman perempuanmu yang lainnya, tetapi di mataku, apa yang kamu lakukan kepadaku, jelas berbeda dengan apa yang kamu lakukan kepada teman perempuan kita.

Bodoh kalau aku enggak mengakui bahwa kamu memiliki perasaan yang berbeda kepadaku; dibandingkan dengan ke teman kita yang lain. Bodoh kalau aku enggak melihat kamu memperlakukanku dengan istimewa. Bodoh kalau aku enggak bahagia. Tetapi, aku pun enggak buta atas sikapmu yang masih enggak mau mengakui perasaan itu. Aku sadar, sepenuhnya.

Sentuhan, tatapan, panggilan, dan segala gerakmu padaku terasa begitu memekakkan. Membuatku ingin sudah saja. Begitulah kamu; dapat menjadi menyebalkan dan menyenangkan di saat yang nyaris bersamaan. Manis.

Entahlah, barangkali perkara sakitmu di masa lalu itu, atau memang bagimu, waktunya masih belum—atau bahkan tidak akan pernah—tepat. Dan, untuk yang pertama kalinya, aku datang terlalu cepat, meski dengan rasa yang tepat.

Malam itu, rinduku terbayar. Dengan penuh. Dan, di bawah sorotan lampu jalanan, ditemani gelak anak-anak muda, diaromai wedang ronde, aku sadar bahwa kamu tidak pernah punya cinta itu untukku; tidak hari ini, tidak kemarin, dan tidak kelak. Pun, kita yang pernah indah, hanya indah dan manis di mataku, tidak untukmu. Dan itu tidak apa, bukan?

Meski segalanya terasa kian pahit, namun aku ingin kamu tahu bahwa kita pernah manis di dalam benakku. Khayalan tentang esok yang indah, manis, dan hangat memeluk kita di pinggir jalan, di tengah derai hujan, dan bahkan di dalam selimut membagi kisah bersama hingga larut. Dan aku masih ingin merawat mimpi-mimpiku tentangmu di dalam benak. Menyimpan yang manis tentang kita meski tak akan ada kelak.

Aku tahu, aku sadar, bahwa kamu memang begitu mudah naik-turun. Dan aku paham, Sayang. Itulah, aku memutuskan untuk menikmati detik-detik terakhir kita, tanpa ingin tahu bagaimana esok.

Barangkali kelak, saat kamu merasa segalanya sudah tepat, aku sedang berada di suatu tempat, dan ingin pergi dengan cepat; Jangan sekarang. Atau, kamu tidak akan pernah merasa tepat, sementara aku duduk di suatu ruang, berharap kamu lekas datang.

Selamat berbahagia, Sayang. Aku pamit. Dan untuk sekali saja… aku ingin mengakui bahwa aku tidak baik-baik saja.

 

Kepada, kamu yang sedang tidak jatuh cinta..

Dari, seseorang yang rela mendengarkanmu dengan khidmat, menikmati suaramu, mengingat setiap sentuhanmu, memikirkan bagaimana pergi darimu, mengeja kamu dengan rasa yang indah dan manis, seseorang yang akhirnya merasa tidak baik-baik saja setelah menjatuhkan cintanya kepadamu….

 

Cause I’m going crazy when I’m not okay. I keep praying that the cracks don’t show my pain. Cause even when I’m falling, I say my life is like a dream. But I’m fighting through a nightmare.—You Don’t Really Know Me (Jessie J, Sweet Talker, 2015)

Berbahagialah

“Andai saja cintamu seperti cintaku…” –Sheila On 7 (Mudah Saja, Menentukan Arah)

 

“Kamu ingat, enggak, hari itu kita seperti dua sahabat lama yang akhirnya bertemu. Dengan sigap, kamu mengambil bukuku yang basah. Dengan seenaknya—dan tentunya seakan sudah kamu lakukan berkali-kali—kamu mengambil air mineralku. Dan aku, seseorang yang paling anti-meminta ini, enggak enggan meminta minummu,” aku pun tergelak.

Ia tersenyum.

Aku menghela napas pelan. Memejamkan mata. Mengingat lagi, mengeja lagi. Perasaan yang—ternyata—masih sama, hingga kini. “Dan kamu ingat, enggak, waktu kita keluar dari tempat makan itu, kamu langsung menyejajarkan langkah denganku, dan—lagi-lagi seakan sudah kamu lakukan ratusan bahkan ribuan kali—kamu mengambil payungku. Kita kayak dua orang yang sudah kenal bertahun-tahun. Padahal waktu itu baru masuk bulan ketiga…” aku kembali tergelak kecil.

Ia masih bergeming dan tersenyum.

“Aku enggak tahu apa yang salah pada kita saat itu, tetapi aku merasa masa-masa itu enggak seharusnya berakhir, Juna. Aku menikmati mengganggumu di ruang obrolan. Menimbun chat yang bakalan berakhir dengan kamu yang menyahut, ‘Bodo amat, Dru.’.”

“Lalu kenapa semuanya kamu akhiri, Dru?”

Aku mengernyit.

“Lalu kenapa kamu memutuskan lenyap, Dru?”

Aku memejamkan mata.

“Drupadi, kenapa kamu selalu tampak baik-baik saja di hadapan yang lain?”

Dan kini aku ingin enyah—lagi. Aku memandangnya. Hatiku kecut. Ada sesuatu yang menarikku ke belakang. Ke masa di mana segalanya seakan baik-baik saja, padahal tidak. Ke masa di mana segalanya terlihat biasa-biasa saja, padahal tidak. Ke masa di mana kami seakan dua sahabat baik, padahal…. kami jauh dari baik-baik dan biasa-biasa saja.

Aku pun menggeleng seakan tidak percaya. “Sebegitu tidak pekanyakah kamu, Juna? Atau seahli itukah aku berakting? Ingatkah kamu kita pernah sama-sama berbahagia meski singkat? Mungkin kita pernah berakhir atas sikapku yang melukaimu. Tetapi, Juna, percayalah…. kamu enggak akan pernah mau merasakan luka dan duka semenyesakkan ini. Juna…. aku lelah mengakui segalanya baik-baik saja, padahal tidak. Aku lelah, Juna…..”

“Dru….”

“Aku tahu… hingga saat ini, apa yang pernah kita bagi itu sudah kamu anulir. Tidak denganku, Juna….” aku tersenyum. “Segalanya masih lekat pada benakku. Menempel semanis kembang gula di dalam sini. Tapi itu bukan masalah untukku. Satu, saja, Juna…. aku mohon…. berdamailah dengan dirimu sendiri. Jangan siksa dirimu atas kisah-kisah lalu. Kamu berhak atas apa pun yang lebih baik dari yang sudah lalu dan merenggut keinginanmu untuk jatuh hati. Apa pun. Kamu berhak atas sesuatu yang lebih baik. Dan kamu enggak akan maju kalau kamu enggak belajar memaafkan, Juna.”

Ia masih bergeming.

“Waktu enggak akan selamanya merawat lukamu. Juna, aku enggak meminta kamu merawat lukaku. Tapi, tolong… rawat lukamu sendiri. Waktu bukan ibu. Kamu hanya perlu memaafkan dirimu sendiri.”

“Tapi, Dru… kamu enggak merasakannya…”

“Aku tahu, aku enggak merasakannya, Juna. Tetapi aku tahu, aku tahu setiap manusia berhak berbahagia. Berhak terlepas dari segala yang melemahkan mereka, dari segala yang melemahkanmu, Juna….”

Kami berpandangan. Jemarinya hangat menyentuh jemariku.

“Dru….”

“Juna, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.”

“Bagaimana bisa kamu masih berbahagia atas luka-luka dan duka-dukamu, Dru?”

Aku tersenyum. “Aku hanya perlu jatuh cinta setiap saat, Juna. Aku berbahagia atas itu. Dan aku merasa cukup…”

“Ada berapa banyak luka yang menempamu, Dru?”

Aku tergelak. “Kamu enggak akan mau tahu, Juna….”

“Jika aku boleh tahu, Dru, pernahkah kamu berhenti jatuh hati padaku?”

Aku kembali tergelak, kemudian aku tersenyum, “Sesuatu yang aku enggak tahu gimana berhentinya, ya perkara satu itu.”

 

Plak! Pukulan ringan di bahu, seakan bandul yang menarikku, “Dicari Juna tadi, Dru!”

“Ha? Juna siapa?” tanyaku kikuk.

“Arjuna!” jawab suara tadi.

Aku menggigit bibirku. Arjuna. Nama yang membuat hatiku kecut dan bersemi dalam waktu bersamaan. Dan di sana, aku melihat tubuhnya yang jenjang, kedua tungkai kakinya yang panjang-panjang berjalan ke arahku, dengan senyumnya yang paling manis dan membuat hatiku mencelos.

Ia pun mengulurkan tangannya demi memotong jarak di antara kami, “Drupadi! Apa kabar?”

“Arjuna…” suaraku parau. “Apa kabar?”

Ia masih tersenyum, “Ke mana saja?”

Dan hari itu, ditemani debur ombak, memandang kawanan burung terbang di kaki langit, aku merapal doa yang masih sama, “Oh Tuhan…. bahagiakan ia, berhakkan ia atas bahagianya. Dan cukup. Aku cukup. Aku penuh.”

 

Kepada kamu, huruf kesembilan dari belakang, seseorang yang masih manis dan rajin aku eja. Seseorang yang mulai akrab dengan buku-buku tanganku yang menengadah. Seseorang yang pernah, masih, dan aku harap akan terus ada… aku hanya ingin kamu berbahagia atas apa pun yang kini kamu rasa dan kamu damba.

Ingat saja, kamu berhak atas kebahagiaan itu.

Berbahagialah atas hidupmu. Berbahagialah atas dirimu. Berbahagialah atas bahagia itu sendiri.

Meredup

“Sebegitu-salahnyakah punya harapan?” –Zarah, Supernova: IEP (2016)

Aku tersenyum saat membacanya. Hari itu, aku seakan diwakili oleh Zarah. Di bawah malam yang meremang, diangin-anginkan kenang. Aku masih mengeja harap padanya. Laki-laki menyebalkan yang melalui sentuhannya, membuatku mabuk kepayang dan kepayahan hingga detik ini.

“Chaska pernah bilang, jangan sampai harapan membuat kita buta pada kenyataan.” –Gio, Supernova: IEP (2016)

Senyum kembali menyungging. Gio menjawabku. Aku seakan dihantam kenyataan bahwa kami jelas-jelas sudah tutup buku. Tidak akan ada lagi ia yang jahil merangkul atau mencubitiku, tidak akan ada lagi ia yang mengambil kulit ayam krispiku, tidak akan ada lagi ia yang semanis dulu saat mengambil alih payung jinggaku.

Segalanya sudah selesai tepat saat itu semua baru saja dimulai. Aku tidak ingin berdiri dan menuding siapa yang salah. Karena, Sayang, sesungguhnya perkara hati tidak pernah ada yang tepat dan tidak pernah ada yang salah.

Rasakan saja, jatuh saja, dan relakan saja.

Hari lalu pernah datang dan bertandang bersamanya di sisiku. Tersenyum penuh arti, menjabat tanganku di hadapan kenyataan. Hari lalu juga pernah mampir pada kami, di bawah terik matahari, di bawah rintik hujan timur Jakarta. Hari lalu, pernah menjadi milik kami di atas piring nasi goreng jalanan, di dalam botol air mineral, di atas piring nasi ayamku.

Masa itu, adalah masa-masa di mana aku sedang sangat cinta-cintanya. Merasakan setiap detik berderik manis di bawah kulitku. Menikmati duduk di sisinya. Memerhatikan gerak-geriknya yang lincah, dan kini membingkainya. Mendengarkan suaranya yang cempreng, dan kini menyimpannya.

Semua tentangnya sudah rapi kuletakkan di dalam benak. Di sebuah kotak yang detaknya kian melemah. Namun tetap penuh arti.

“Aku masih ingin berharap meskipun cuma kepada udara kosong.” –Gio, Supernova: IEP (2016)

Ah, udara kosong. Sembari menghela perlahan, aku kembali bercermin. Sebanyak apa aku pernah melampaui diriku sendiri dalam berharap? Dan seakan tidak menemukan angka yang pasti, aku kembali tersenyum. Mempersilakan diriku untuk terus berharap.

Kepada apa pun. Udara kosong, remah roti, ataupun pada tingkahnya yang menyenangkan. Aku ingin sekali menaruh harap. Barangkali ia akan datang lagi seperti sedia kala. Tersenyum manis, menjabat tanganku, dan kami kembali berkenalan.

Ingin sekali rasanya lenyap dari hidupnya. Pergi ke Saturnus, mampir sebentar di Pluto, minum dan makan secukupnya. Membaca buku sebanyak mungkin di perjalanan menuju Saturnus. Duduk-duduk sebentar di satelit-satelitnya yang melingkar. Kembali ke Saturnus. Membaca… membaca…. hingga lupa mengeja ia. Hingga lupa padanya.

Dan kembali ke Bumi. Saat benakku sudah penuh dengan segala khayal tentang apa saja, tetapi bukan ia.

Dan mungkin kami akan kembali bertemu dengan ia dibalut kemeja merah marun, senada dengan kerudungku. Di hadapan benda-benda bersejarah, kami saling berjabat tangan kembali. Seperti dua orang sahabat lama yang menantikan hari ini.

Tanpa ada lubang menganga di dadaku. Tanpa ada benak yang bergolak ke masa lalu. Tanpa ada aku dan ia yang pernah saling mengindahkan.

Kembali menjadi dua orang asing. Kembali menjadi dua orang bodoh yang saling jatuh hati. Karena kini aku lelah jatuh hati dalam keadaan sebagai seorang pengecut.

Di atas segalanya…. aku hanya ingin kembali ke masa-masa di mana aku tidak perlu lagi memusingkan ia sedang apa, ia di mana, dan hatiku seakan dicabik setiap kali melihat tingkahnya yang nakal pada perempuan lain.

Dan, di hari pengais akhir di bulan lima ini, aku sepertinya harus mulai belajar memaafkan. Apa pun, siapa pun.

Ia, kami, dan bahkan diriku sendiri. Karena aku percaya, bahwa aku dan ia, sama-sama pantas atas hari esok tanpa terseok. Hari ini, aku harus belajar memaafkan. Perkara esok aku akan mendapatkan apa, biarkan menjadi misteri yang manis.

Ah, Sayang…. selamat berjalan lagi. Selamat menemukan lagi. Kutahu kau tahu aku ada….

“Kamu berhak atas lembaran baru. Tapi, kamu ndak akan maju-maju selama kamu belum belajar memaafkan.” –Kas, Supernova: IEP (2016)

Peluk

Dan kini kuharap ku dimingerti, walau sekali saja pelukku. Tiada yang tersembunyi, tak perlu mengingkari, rasa sakitmu, rasa sakitku. Tiada lagi alasan, inilah kejujuran, pedih adanya, namun ini jawabnya. –Peluk, Dee&Aqi Alexa

Melalui tulisan ini, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu yang (pernah) indah dan manis bersamamu.

Saat itu, masa itu, aku pernah jatuh hati padamu. Pesan singkat darimu, kerap kali membuat degupku menggebu, bibirku tersenyum. Ada perasaan yang menghangat kian harinya setiap kali ini tentangmu.

Bahagia. Aku bahagia. Dan mungkin memang cukup. Aku bahagia atas cinta yang indah. Cinta yang hadir manis di dada ini saat kamu merangkulku di pertemuan pertama kita. Cinta yang hadir manis saat kamu memanggilku dengan panggilan khas. Cinta yang hadir manis saat kamu mencariku (padahal teman kita juga tidak tampak di tempat). Cinta yang hadir manis saat kamu mengambil air mineralku tanpa izin. Cinta yang hadir manis saat kamu duduk di sampingku. Cinta yang hadir manis saat kamu menahanku untuk tetap tinggal. Cinta yang hadir manis saat kamu mengambil alih payungku. Di bawah rintikan hujan itu, kutitipkan kasih dan sayang di tiap kecupannya pada payung kita.

Cinta itu hadir manis ketika kamu mengatakan bahwa kamu tidak akan romantis.

Cinta itu hadir manis ketika aku didera cemburu buta dan gelisah menanti kabar.

Manis dan Sayangku…. melalui tulisan ini, aku hanya ingin kamu tahu, bahwa perasaan kasih dan cinta itu tidak pernah buruk. Ia bersemayam dengan indah dan manis di dadaku. Dan kamu, adalah penyebabnya. Mengapa takut atas perpisahan jika perpisahan adalah keniscyaan?

Sadari diriku pun ‘kan sendiri, di dini hari yang sepi. Tetapi apalah arti bersama, berdua, namun semu semata. –Dee&Aqi Alexa

Pada suatu hari di masa lalu atau masa mendatang, kita akan ditinggalkan. Aku, pernah ditinggalkan. Oleh sosok ayah. Dua kali. Tapi aku tidak ingin memelihara api di dalam dada. Perpisahan adalah risiko pertemuan. Apalagi yang kita cari?

Cinta itu indah, Sayang. Cinta ini, indah. Aku jatuh hati padamu. Dan aku bahagia. Cukup. Aku tak perlu logika, apalagi takut patah hati. Cinta bukan untuk didebat atau diatur harus begini dan tidak boleh begitu. Cinta itu indah sebagaimana kita merasakannya.

Sesekali, kamu harus membiarkannya ada. Mengisi relung hatimu. Membuat hari-harimu indah. Membuat energimu dua kali lipat. Tapi, aku menghargai jika kamu memilih untuk menjaga dirimu. Itu hakmu. Tidak ada yang salah, tidak ada yang benar.

Tiada yang terobati di dalam peluk ini, tapi rasakan semua, sebelum kau kulepas slamanya. –Dee&Aqi Alexa

Di bawah langit yang sama dengan langit saat laba-laba yang menyulam di dinding Keraton. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa bagiku, cinta itu indah. Cinta itu menakjubkan. Jangan kungkung dirimu dari kepatahan masa lalu. Bersedihlah, menangislah, teriaklah, dan merengeklah. Kita butuh itu. Agar selesai.

Semoga, kelak kamu dapat menemukan seseorang yang berhasil memisahkanmu secara permanen dengan trauma itu. Mungkin bukan aku. Dan aku terima.

Sekali lagi, Manis dan Sayangku, berbahagialah atas cinta yang hadir. Cinta itu manis, bagiku. Jika tidak bagimu, tidak apa-apa. Aku tidak peduli.

Selamat berbahagia, Sayang. Selamat belajar menemukan.

Tak juga kupaksakan. Setitik pengertian, bahwa ini adanya cinta yang tak lagi sama. –Dee&Aqi Alexa

 

Kepada, penenun sakit dengan abjad kesembilan dari belakang.

Dari, penjodoh antaramu dan sakitmu dengan abjad kelima dari depan.

 

Catatan kaki: Janjimu ke Yogya sudah kuanggap gugur, tidak perlu dijadikan beban, ya

This Is Where I Leave You, This Is Where I Take The Risk

Divorce is complicated. Starting over is complicated. And you don’t do complicated. –Wendy Altman

Film ini lahir dari tangan sutradara film-film keluarga yang tidak dapat diragukan lagi keapikannya. Sebut saja Cheaper By The Dozen 1 dan 2, Real Steel, juga seri Night at The Museum. Shawn Levy juga tidak tanggung dalam menggaet aktor dan aktris yang turut menciptakan harmonisasi indah dalam This Is Where I Leave You. Sebut saja Jane Fonda dan Tina Fey. Film ini pun masuk dalam jajaran film yang diputar di Toronto Film Festival tahun 2014.

A dream cast are on good form in a film that makes you want to call your siblings, but very glad you don’t live with them.Olly Richards (Empire)

 

Judul Film: This Is Where I Leave You

Sutradara: Shawn Levy

Diangkat dari novel karya: Jonathan Tropper

Produser: Shawn Levy, Paula Weinstein, dan Jeffrey Levine

Komposer musik: Michael Giacchino

Sinematografi: Terry Stacey

Pemain: Jason Bateman, Tina Fey, Jane Fonda, Adam Driver, Corey Stoll, Rose Byrne, Kathryn Hahn

Rating:

IMDb: 6.6/10

Rotten Tomatoes: 41%

Metacritic: 44%

 

Sinopsis

When their father passes away, four grown, world-weary siblings return to their childhood home and are requested — with an admonition — to stay there together for a week, along with their free-speaking mother (Jane Fonda) and a collection of spouses, exes and might-have-beens. As the brothers and sisters re-examine their shared history and the status of each tattered relationship among those who know and love them best, they reconnect in hysterically funny and emotionally significant ways. [Sumber Wikipedia]

 

Ulasan

What is your story between you and your dad, Judd? –Hillary Altman

Saya penggemar Jason Bateman dan film-film terkait keluarga, apalagi keluarga yang disfungsional. Kedua hal itu menarik saya pada satu film ini: This Is Where I Leave You. Beberapa ulasan menyebutkan bahwa kisah dalam film ini terasa begitu manis, hangat, namun komedi yang menempel membuatnya terkesan murahan.

Namun, tidak untuk saya. Hubungan yang terjalin indah dan manis antara The Altmans membuat saya begitu jatuh hati pada film ini. Di awali dengan terungkapnya perselingkuhan antara Quinn (istri Judd) dengan bos Judd sendiri, kemudian Judd kembali diterpa berita meninggalnya sang ayah. Seakan masalah tidak ingin berjeda menyapa Judd.

Hadir tanpa Quinn serta jenggot yang—seakan—tumbuh liar di sekitaran wajahnya, langsung mengusik radar curiga Wendy, adik Judd. Apalagi, alasan yang terkesan tidak masuk akal yang Judd berikan kepada sang ibu, Hillary Altman.

You can cry… or laugh, there is no correct reaction. –Hillary Altman.

Di pemakaman, karakter setiap Altman sudah sangat tampak. Paul si kakak pertama yang merasa harus selalu menjadi pemimpin, memasang badan, galak, dan menyebalkan. Corey Stoll, sosok berkepala pelontos yang memiliki wajah agak menyebalkan, berbibir tebal, dan berbadan besar pun tampil cocok sebagai Paul. Tidak lantas mengurangi kecocokannya saat ia kemudian menjadi kakak yang menyenangkan ketika ‘melindungi’ Phillip di hari mereka ‘mengacau’ di kuil.

Lalu Judd, anak kedua yang seakan memiliki jarak pada kakaknya, dan lebih dekat dengan adiknya, Wendy, namun tetap merasa harus mewaspadai dan mengawasi adiknya yang terakhir, Phillip. Jason Bateman tampil manis dengan Judd, anak kedua sebagai penengah.

Wendy Altman, perempuan satu-satunya dalam jajaran The Altmans, cerewet, dan—karena ia perempuan—ia didesain sebagai yang paling peka, peduli, dan dekat dengan semuanya. Memiliki dua orang anak yang masih kecil, dan seorang suami pebisnis yang tidak pernah lepas dari perantinya. Dan bahkan akhirnya memutuskan pergi ke London saat The Altmans tengah menjalani sitting shiva. Wendy memiliki porsi cerewet, manis, penuh rasa sakit, dan sosok kakak yang menakjubkan bagi Phillip, hadir bersama Tina Fey.

I’m a loser, but not stupid. –Barry Weissman.

Pria yang berada di barisan akhir pada jajaran The Altmans ini sampai dengan bising di pemakaman sang ayah. Musik yang tidak menggambarkan kesedihan menguar dengan sangat kencang dari mobilnya saat sampai di pemakaman. Dan saat ia turun, ia berlari tunggang langgang dengan mengumpat berkali-kali. Saat sampai di tempat ayahnya disemayamkan, ia melihat teman kecilnya yang biasa dipanggil Boner kini memimpin prosesi pemakaman dengan rituan Yahudi, dan kembali mengumpat. Adam Driver agaknya sudah begitu mahir memerankan sosok Phillip. Nakal. Namun hangat.

You’re so not fine. And it’s okay to be not fine. I grow up with you, your voice is inside my head. Not Dad, not Mom, but you. And sometimes I wish it just shut the fck up. –Phillip Altman.

Berkumpul kembali, duduk bersama dalam sitting shiva selama tujuh hari, tidur, bangun, bercengkrama, dan makan di bawah atap yang sama lagi, pulang ke kampung halaman seakan memberikan perasaan yang paradoksial bagi keempatnya.

We want the one we can’t have, and we crap the one that we can. –Wendy Altman

Paul dan Annie yang belum juga dikaruniai anak setelah enam tahun menikah, harus rutin berhubungan seksual dengan sekumpulan jadwal dan justru membuat Paul enggan berhubungan seksual. Belum lagi, ternyata Annie adalah mantan kekasih dari Judd. Kemudian Judd yang sering kali ‘diganggu’ telepon dari Quinn, dan Quinn hadir dengan berita kehamilan (setelah ia berhubungan seksual dengan Wade, dan siapa yang tidak meragukan?), dan di kampung halaman, Judd kembali bertemu Penny Moore. Seseorang yang terasa begitu lekat dan tidak suka berbasa-basi.

I don’t like small talk. So I just wanna give you a hug. –Penny Moore.

Wendy yang ternyata memiliki masa lalu yang tidak sekadarnya dengan Horry, tetangga keluarga Altman yang sudah sangat dekat bagai keluarga. Kisah di masa lalu itu tidak pernah terasa mudah untuk Wendy lupakan. Keberangkatan Wendy sambil melambaikan tangan pada Hory adalah salah satu adegan paling menyayat hati saya. Apalagi, seperti yang Wendy bilang, Hory tidak akan ‘beranjak’ ke mana-mana. Ia akan menua di sana. Dengan luka masa lalu, luka di kepala, kebingungan melakukan sesuatu, dan akan terus memanggil Wendy dengan ‘Sun Flower’.

Life should be complicated. Life should be unpredictable. –Judd Altman.

Judd dan Wendy begitu suka menikmati kegalauan di atas genting rumah mereka. Di sana, keduanya berbagi gelisah, tangis, dan saling menopang. Di antara yang lainnya, agaknya Judd dan Wendy lah yang memiliki kisah paling ‘rumit’ di kampung halaman mereka. Di atap genting, Judd akhirnya menyadari bahwa kehidupan seharusnya rumit dan tidak sederhana. Dan Wendy, adalah seseorang yang paling pandai mengais yang tersisa dari kakak kesayangannya itu.

Love causes cancer, just like another thing. But it’s still love. It has its moment. –Wendy Altman.

Kisah terasa mengejutkan saat Hillary melela. Bersama seseorang yang sangat dekat dengan keluarga Altman. Dari sana, Judd menyadari bahwa rangkaian sittig shiva bukanlah ide mendiang ayahnya, melainkan ide sang ibu.

Secara keseluruhan, saya sangat menyukai film ini. Kehadiran Penny seakan menjadi angin segar atas keterpurukan yang Judd alami. Apalagi pertemuan terakhirnya dengan Penny. Hubungan keduanya yang sempat membuat saya jatuh hati, dan kemudian patah hati, akhirnya membuat saya tersenyum dan bersyukur atas keputusan yang Judd ambil.

Sinematografi yang apik dan manis. Dengan besutan musik Michael Giancchino, komposer film-film beken seperti Inside Out, The Incredible, dan—yang terbaru—Zootopia, film ini terasa semakin menyenangkan.

Pada akhirnya, seberapa pun kita menolak membantu saudara kandung sendiri, sebesar itu pula kita akan terus memutar otak untuk bergerak membantu mereka. Untuk pulang. Sebanyak apa pun perpisahan yang mewarnai, kita tidak akan pernah ingin merutuki keluarga, namun kita akan tersenyum dan bersyukur atas rasa memiliki.

Kita pun akhirnya mengetahui kisah yang Judd ingat antara ia dan ayahnya.

He used to call me J. I remember, Mom.. –Judd Altman.

Berpindah

 

Mengabarkan hal ini seakan menanggalkan mantel di tengah badai salju.

“Lo bakalan ikut pindah juga, Mbak?”

“Hmmm… iya, lah….”

“……” matanya pun berkaca-kaca.

Percakapan di akhir pekan yang membuat saya semakin enggan. Berita kepindahan yang terasa ganjil dan menyebalkan. Selepas hari itu, saya termenung. Mengeja dalam benak… saya akan pindah? Atau… setidaknya konsep itulah yang paling tepat.

Sejujurnya, kalkulasi bodoh saya tidak pernah memperhitungkan reaksi-reaksi mereka. Jarak, belum pernah terasa semenyebalkan ini. Dari ibu kota ke keraton. Saat bewara, tanggapan yang tidak saya sangka pun saya dapatkan.

Pertama, dari seseorang yang sangat istimewa untuk saya. Seseorang yang baru saja hadir dan membuat dada saya gegap gempita setiap kali memikirkannya saja. Seseorang yang… ah sudahlah, ia seistimewa martabak telur dengan telur angsa. Ia seistimewa tanggal merah di hari Jumat. Ia istimewa sebagaimana dirinya. Sedih. Bertanya, seakan tidak terima. Bertanya lagi seakan saya baru saja menyampaikan bahwa saya jatuh hati padanya, ia tampak tidak percaya. Saat itu, di hadapan perangkat mengetik, saya bewara dan bercerita sembari menangis. Sikap ia membuat segalanya terasa semakin berat dan menyebalkan.

Kedua, seorang sahabat yang tampil sebagai kakak bagi saya. Di tab chat grup kami, ia hanya muncul sekali dengan tanggapan yang begitu menohok dan membuat hari itu terasa kian men-duri. Ia kesal. Saya juga. Mengapa semuanya serba mendadak? Berita itu saya bawa beserta embel-embel: Besok saya berangkat.

Dan sahabat yang satu ini, adalah yang sangat amat baru hadir. Menjadi sosok teman saat di chat, tetapi menjadi kakak saat bertatap muka. Kedewasaannya membuat saya betah dan ingin menetap. Reaksinya membuat kepergian ini terasa seperti keputusan terburuk dalam hidup.

 

Mereka membuat saya merasa berharga. Jika pun mereka betulan menangis layaknya saya, rasanya ingin sekali menyimpan butiran air mata mereka dan saya bawa melintasi langit Jawa.

Dan kini, di hadapkan dengan sawah di belakang rumah, saya menyimpan dengan rapi rasa itu. Rasa dirindukan dan merindukan. Rasa diinginkan dan menginginkan. Rasa ingin dipeluk dan ingin memeluk.

Pada akhirnya, kita semua akan dan harus berpindah. Dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Dari satu tempat ke tempat yang lain.

Dan, dari satu perasaan ke perasaan yang lain.

I got my ticket for the long way ’round. Two bottle whiskey for the way. And I sure would like some sweet company. And I’m leaving tomorrow. What d’you say? (Cups, Anna Kendrick)